h1

KAYA BERARTI BISA BERBAGI by Pitoyo Amrih

Agustus 16, 2008

Seri Artikel Kebiasaan Positif Orang Kaya

Sebuah pemandangan yang menurut saya indah! Terkadang saya bisa berlama-lama menikmati pemandangan ini. Anak saya bersama-sama teman-temannya bermain di teras rumah ngeriung. Celotehan para balita ini sesekali bisa membuat saya tersenyum atau tertawa sendiri. Mereka bermain mainan, ngobrol kesana – kemari dengan bahasa dan logika mereka sendiri. Terkadang saya sendiri tidak bisa mengerti apa yang mereka bicarakan, tapi itulah mereka, dan ketika momen itu terjadi, saya biasanya sengaja mengambil jarak terhadap keasyikan mereka, tidak berusaha terlibat dengan menggurui dan menghakimi keasyikan mereka.

Dan momen-momen itu biasanya berakhir dengan dua orang dari anak-anak itu kemudian saling ngotot adu mulut atau fisik berebut sebuah mainan. Ada salah seorang anak itu yang menangis, atau marah-marah, teriak-teriak. Dan menurut saya juga bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Karena itu semua adalah bagian dari proses pembelajaran mereka tentang bagaimana harus berbagi. Termasuk juga proses pembelajaran kita sebagai orang tua tentang bagaimana menyikapi anaknya yang sedang mengalami proses pembelajaran untuk berbagi.

Dan bila hal ini terjadi, saya kembali ingat cerita Stephen Covey dalam bukunya ‘7 Habit’. Dimana disitu dia bercerita tentang anaknya yang waktu itu berulang tahun pada usia ke tiga, mendapatkan banyak sekali kado dari anak-anak tetangganya. Tibalah saat bermain di mana seluruh kado dibuka. Tapi apa yang terjadi, si Covey kecil ini sama sekali tidak mau meminjamkan mainannya ke pada teman-temannya. Berbagai upaya dilakukan oleh ayahnya untuk membujuk si anak agar mau berbagi mainan. Tapi si anak, tetap dengan berteriak-teriak menolak meminjamkan mainannya. Pelajaran yang berusaha diperlihatkan Covey adalah setiap manusia punya proses pembelajaran sampai seseorang mampu untuk berbagi. Seseorang yang semula bersifat sangat posesif, dengan kemauan akan bisa menjadikan dia belajar untuk bisa berbagi. Dalam arti bahwa, setiap orang yang bisa berbagi, pastilah dulu pernah juga bersifat posesif, dan dengan berjalannya waktu mau belajar untuk berbagi.

Masih seperti yang pernah diutarakan Covey dalam bukunya, hal ini atas persepsi saya sebenarnya bermuara pada pergeseran paradigma dari mentalitas scarcity menjadi mentalitas abundance. Bergesernya mentalitas yang semula melihat bahwa semua ini layaknya sepotong kue, dimana kalau orang lain sudah mengambil separuh bagian, paradigma ini selalu menganggap bahwa apa yang tersisa hanyalah separuhnya. Semangat berbagi akan timbul dengan sendirinya ketika kita mulai bisa menggeser paradigma itu ke arah mentalitas abundance yang melihat bahwa begitu banyak ‘kue-kue’ lain selain ‘kue’ yang ada.

Mengapa saya mengawali cerita ini? Mari kita lihat apa yang terjadi disekitar kita. Sengketa tanah ada di mana-mana. Sengketa usaha, perebutan kursi politik yang memakai cara-cara diluar aturan main. Dalam skala lebih luas, kita melihat perang masih ada dimana-mana. Mereka semua yang terlibat adalah orang dewasa, dalam artian atas definisi umur mereka sudah tidak bisa dikategorikan sebagai anak-anak. Mereka semua yang terlibat adalah kaum intelektual, lalu mengapa ‘berebut’ itu masih ada? Anda boleh mendebat saya, tapi bagi saya, kejadian dua orang balita berebut mainan, esensinya sama dengan misalnya dua orang dewasa yang bersengketa.

Betul mereka menempuh jalur hukum misalnya, memakai cara-cara sesuai aturan main, tapi sebuah sengketa muncul karena masih adanya sebuah paradigma scarcity. Walaupun itu bukan berarti setiap kejadian sengketa saya menyarankan untuk sudahlah kita abundance saja sebaiknya, bukan itu.. Karena sebuah sengketa bisa jadi akibat dari silang sengkarut banyak hal dan banyak kepentingan yang belum tentu justru disebabkan oleh dua orang yang terlibat secara langsung sendiri.

Dan untuk menggeser ke abundance tidaklah bisa terjadi dengan sendirinya. Dibutuhkan sebuah kemauan dari diri sendiri untuk merubahnya. Dan ketika kemauan itu ada, pergeserannya juga tidaklah dengan serta merta bisa memperbaiki kedewasaan berpikir kita untuk bisa berbagi.

Secara logika, seseorang yang merasa dirinya kaya, seharusnyalah sebuah mentalitas abundance yang ada pada dirinya. Karena logikanya, ketika seseorang merasa kaya, yang dilihat di depan matanya bukan lagi memikirkan sisa ‘kue’ orang lain yang harus dia dapatkan, tapi lebih kepada bagaimana dia menciptakan ‘kue-kue’ baru yang bisa dia dapatkan, syukur-syukur menjadi inspirasi orang lain untuk juga menciptakan kue yang sama.

Misalnya ada sebuah potret kejadian demikian, seorang pengusaha yang mengawali usahanya dari kecil, kemudian menabung sedikit demi sedikit. Sekian tahun usahanya maju dan berjalan cukup bagus. Sebuah jerih payah itu kemudian sebagian tabungannya diwujudkan dalam bentuk sebuah mobil mewah yang dari dulu dia impikan. Setiap hari selalu dia lewatkan mengendara mobil itu. Pada kesempatan lain dia menghabiskan waktunya berlama-lama memoles mobilnya. Tapi tanpa sengaja, suatu ketika ditempat parkir, seorang tukang sampah tidak sengaja menarik gerobagnya agak ke tepi sehingga menggores panjang, mobil sang pengusaha.

Disinilah sebenarnya saya melihat kedewasaan sang pengusaha diuji. Bagaimana respon dia ketika melihat goresan di mobil barunya, sebenarnya bisa menjadi indikator sampai dimana dia merasa dirinya kaya. Bagaimana kaya (secara ekonomi)-nya dia bisa memberi kemauan baginya untuk menggeser paradigmanya ke arah abundance. Bagaimana dia melihat kehidupan sebagai sesuatu yang dijalani dengan sesama dengan cara berbagi.

Ada satu contoh lagi yang cukup menarik untuk direnungi. Anda ingat film Matrix..? Sang kreator film ini adalah dua orang muda bersaudara yang selalu bekerja keras. Sebuah ide orisinil yang tampil dalam film Matrik adalah teknik pengambilan gambar dimana kamera yang berjumlah puluhan dipasang melingkar mengelilingi obyek adegan yang diambil gambarnya. Kemudian dipandu dengan ketekunan saat proses editing jadilah sebuah hasil dilayar berupa gerak slow-motion (terkadang juga dibuat berhenti) tapi pada saat yang sama sudut pandangnya bisa ‘berjalan’ memutar.

Pada saat karya itu tersaji. Semua sineas bertanya-tanya. Teknik apa yang dipakai? Gambar itu terlihat jelas bukan merupakan manipulasi animasi digital. Apakah mungkin sebuah kamera dibuat bergerak dengan kecepatan melebih kecepatan gerakan obyek yang ditangkap ketika sang obyek bergerak begitu cepat –orang melompat misalnya-? Ide pengambilan gambar itu bila sang dua bersaudara ini berniat mengkomersialkan tentunya akan menjadi sumber pemasukan lain yang sangat besar nilainya –selain hasil dari film itu sendiri- tentunya.

Tapi apa yang dilakukan dua bersaudara ini. Ketika orang bertanya-tanya, justru dia dengan gencar dan bersemangat menceritakan ‘resep rahasia’ mereka itu kepada semua orang. Jadilah sekarang kita menyaksikan begitu banyak film aksi yang memberi bumbu pengambilan gambar dengan teknik yang dilakukan seperti film Matrix itu.

Menurut saya, apa yang mereka lakukan adalah sebuah sikap atas mentalitas abundance. Dan sikap itu dibuktikan oleh orang yang merasa dirinya ‘kaya’. Secara ekonomi –dibanding sineas rata-rata lain di Amerika sono- ketika itu, mereka masih belum bisa dikatakan kaya. Tapi keputusan saat itu mempublikasikan begitu saja idenya adalah sebuah terobosan bagaimana mereka menyikapi hidup mereka. Mereka tidak memperebutkan sisa paruh ‘kue’ orang lain. Tapi menciptakan ‘kue-kue’ baru yang menjadi sumber bagiannya. Tidak hanya itu, ‘kue-kue’ baru ini tidak hanya dinikmati sendiri tapi juga dibagi-bagikan begitu saja, sehingga orang lain bisa mendapatkan manfaatnya.

Bagaimana pun juga kita semua manusia suka atau tidak, hidup dalam satu bumi. Adanya persaingan dalam usaha, karir, pengetahuan, ekonomi, jabatan, menurut saya itu adalah sesuatu yang wajar yang bisa memberikan kita gairah dan semangat untuk terus hidup dan mencari sesuatu yang lebih baik. Tapi diluar itu semua, bagi saya ada sebuah tingkatan lebih tinggi lagi yang tidak mudah, yaitu ketika semua itu bisa diraih, pembuktiannya hanyalah pada bagaimana semangat berbagi itu ada dan selalu menjadi kemauan kita…[pa]

14 Juli 2007
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com – home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

h1

MENGENALI TUJUAN TAMPIL DI DUNIA MAYA by Pitoyo Amrih

Agustus 16, 2008

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya

Perlukah kita membuat profile di internet? Orang boleh berpendapat dengan berbagai macam alasan untuk pertanyaan tersebut. Ketika pertanyaan itu diajukan kepada saya, bagi saya profile di internet itu perlu, mengapa? Mari kita bedah sejenak, berangkat dari maksud kita berinteraksi di internet. Kecuali kalau memang Anda tidak merasa perlu melakukan interaksi dengan individu lain di dunia maya, mungkin tak ada gunanya Anda membaca tulisan saya selanjutnya.

Misalkan ‘kehadiran’ Anda di dunia maya perlu sebatas agar tidak dianggap kuno, orang akan tahu bahwa informasi tentang Anda juga nongol di internet. Sehingga, suatu saat ketika orang yang Anda kenal ketika nama Anda diketik di search-engine, maka halaman web profile Anda menjadi salah satu dari sekian banyak list halaman web yang keluar. Wow, keren! Maka, bila itu maksud Anda muncul di dunia maya, kurang lebih andalah pasar yang dibidik oleh para penyedia jasa weblog yang pernah menjadi boom beberapa tahun lalu sampai sekarang. Orang menyebut dengan istilah Blog, kepanjangan dari weblog. Penyedia jasa ini, atau istilah kerennya Blog Provider adalah organisasi yang membuat template –susah juga mencari padanan kata ini di bahasa Indonesia, sebut saja bingkai-halaman web, sehingga dari bingkai itu Anda dengan mudah memuat apa pun sesuka Anda.

Bagi Anda yang memang ingin ‘sekadar’ tampil di dunia maya, weblog memang sungguh mengasyikan. Saya pernah mendengar ada orang kantoran yang rela begitu rajin datang ke kantor begitu pagi, atau pulang larut malam. Karena waktu-waktu itulah—pagi hari sebelum orang lain datang, dan malam hari ketika yang lain sudah pulang—mereka bisa dengan leluasa ber-weblog ria. Mereka mengetik segala hal tentang perasaan mereka, kisah kehidupan mereka, menyadur artikel favorit sana-sini. Mereka bisa berbagi dengan yang lain informasi seputar diri mereka. Buku favorit, film favorit, warna kegemaran. Mereka juga bisa meng-upload foto-foto mereka, bahkan ada beberapa weblog yang bisa juga menampilkan video pendek bagi mereka yang mau menampilkan diri mereka dalam bentuk video.

Sehingga kemudian tantangan bagi para penyedia layanan weblog adalah membuat template bagi mereka para blogger sehingga dengan mudah mereka dapat menampilkan profile mereka dan sebisa mungkin dapat di-customize begitu rupa, sehingga mengasyikan. Bisa membuat hasil akhir tampilan yang beda antara para blogger tergantung kreativitas masing-masing. Sehingga inilah tantangan para penyedia blog semacam Multiply, Blogspot, dsb. Mereka berlomba-lomba—selain dari sisi teknis masalah kapasitas dan bandwith—untuk membuat blog template yang user-friendly, mudah direkadaya sebegitu rupa sehingga mengasyikan.

Lalu bagi para blogger, apa untungnya? Bagi yang hanya merasa asyik sekadar nongol di internet adalah manfaat yang mereka harapkan, mungkin sampai di situ sudah cukup bagi mereka. Diikuti kemudian mereka menyebarkan alamat blog itu ke milis-milis, ke teman-teman mereka. Dan banyak juga yang membuat kartu nama menampilkan alamat blog mereka. Sehingga bagi mereka ini, ada sebuah kesibukan yang cukup ‘lucu’, yaitu mereka juga menyempatkan waktu menyibukkan diri dengan menuliskan nama mereka sendiri di search engine. Karena pada dasarnya, sistem indexing di search engine juga dipengaruhi oleh seberapa sering sebuah halaman web di-lalu-lalangi orang. Semakin sering, semakin besar kemungkinan berada di list atas.

Ada juga blog berantai yang dikembangkan oleh beberapa penyelenggara blog–semacam Friendster—sehingga setiap kali para blogger ini memperbarui informasi tentang mereka di blog mereka, secara otomatis akan terkirim e-mail pemberitahuan jejaring mereka yang sudah di-set sebelumnya. Sehingga mereka tidak perlu capek-capek kirim informasi mengenai update informasi yang tertampil. Bagi sebagian besar mereka hal ini juga mengasyikan. Tapi ada juga orang-orang yang mulai terganggu dengan selalu hadirnya e-mails yang sebenarnya tidak mereka harapkan tapi selalu nongol otomatis setiap teman jejaring mereka memperbarui informasi di blog.

Kalau orang yang memang ingin nongol di internet, dikenal banyak orang, logikanya memang dia akan menampilkan identitas asli mereka dan semua informasi yang mereka tampilkan benar adanya. Walaupun tidak bisa dipastikan apakah informasi yang memang seolah-olah nyata benar itu memang informasi yang benar-benar benar. Tapi terkadang saya juga heran ketika banyak juga yang nongol di internet tapi malu-malu. Mereka berinteraksi di internet dengan identitas alias, tanpa informasi domisili jelas, bila menampilka foto, juga gambar sembarang yang mereka pampang, mungkin tokoh kartun.

Nah, kelompok kedua ini, saya kok merasa sepertinya, mereka adalah bukan kelompok yang sebenarnya ingin ‘nampang’ di internet. Mereka lebih mirip kelompok yang merasa sendiri dalam hidupnya, tidak ada seseorang yang dekat dalam hidupnya yang bisa diajak berbagi mengenai apa saja. Mereka lebih nyaman menjalin pertemanan di dunia maya. Tak perlu saling tahu identitas mereka. Bisa ngobrol apa saja, dari yang resmi sampai yang kurang ajar, dari yang sopan sampai porno, pujian dan umpatan, mereka bebas. Manfaat yang mereka peroleh, sepertinya sekedar pelepasan dari rasa jenuh keseharian.

Tapi diluar dari itu semua, ada hal yang menurut saya penting tidak sekedar dari kedua manfaat diatas. Anda pun mungkin tahu, media internet, sekarang begitu membahana. Pernah menjadi gegap gempita, suatu saat mungkin sempat anteng. Tapi kenaikan pengguna internet, saya pikir sudah tak dapat dibendung lagi. Sepertinya sudah tak mungkin jumlah pengguna internet itu akan turun. Jumlah itu akan selalu naik, tinggal naiknya itu apakah sekadar linier pelan-pelan, atau kenaikan jumlah itu melonjak eksponensial. Tentunya itu tergantung dari tingkat prasarana yang disediakan para penyedia jalur, juga tergantung dari daya beli masyarakat terhadap akses. Karena yang terjadi sekarang, walaupun secara umum tidak terdapat daya beli yang meningkat dari rata-rata masyarakat kita, tapi secara rata-rata saat ini biaya sambungan internet semakin murah, sehingga secara tidak langsung meningkatkan kemampuan orang untuk terhubung.

Dan ketika dunia internet sudah menjadi alternatif yang semakin mendominasi, maka mungkin bukanlah sebuah mimpi ketika seseorang butuh informasi tentang orang lain, informasi tentang keluarganya, usahanya, profil pribadinya, maka pilihan paling cepat adalah buka PDA, atau mungkin buka laptop, cari area hot-spot. Yang konvensional mungkin datang ke warnet yang sekarang sepertinya sudah ada di mana-mana, akses ke search engine dan ketik nama orang yang ingin diketahui informasinya.

Terasa aneh, tapi begitulah kenyatannya. Orang bisa merasa lebih intim mendapatkan informasi dari layar daripada tanya kepada orang lain. Saya pernah menerima seorang tamu dari Jakarta, datang ke Solo. Kita kebetulan diskusi mengenai pekerjaan. Sampailah suatu ketika tiba saat makan siang. Cukup lama dia sibuk kutak-kutik dengan laptop-nya yang terhubung ke internet.

“Masih lama, Mas…? Ayo kita makan siang…” ajak saya.

“Sebentar, Mas, ini saya sudah dapat list-nya…,” ujar dia sambil tetap memelototi layar, tanpa menoleh ke saya.

“Lagi conect to Mas. Cari apa…?”

“Anu, ini saya lagi search tempat makan yang kira-kira enak di Solo…,” jawabnya polos. Saya tahu dia bukan dalam rangka menyindir saya. Mungkin dia orangnya terlalu lugu, lebih banyak bersama laptop-nya dari pada berinteraksi dengan orang lain. Tapi dalam hati saya lucu juga. Kenapa tidak tanya saya yang sudah lima belas tahun tinggal di Solo?

Sampai di sini, mungkin Anda bisa merasakan maksud saya akan penggolongan kelompok ketiga. Kelompok ketiga ini mungkin lebih memiliki visi jauh ke depan. Dikombinasikan dengan konsep brand-imaging, maka menampilkan profile diri kita secara jujur, benar apa adanya, sebenarnya sebuah investasi. Seperti layaknya sebuah investasi, bisa cepat kembali, bisa juga kita harus sabar menunggu return-nya. Bisa kita perkirakan, bisa juga susah kita prediksi.

Dan satu lagi, investasi ini, menanamnya mungkin ada biaya sedikit, sedikit kemauan, tapi kembaliannya tidak selalu berupa sesuatu yang bisa diwujudkan dalam rupiah. Karena bentuk kembaliannya hanya sekedar berupa awareness orang-orang, tingkat kepercayaan orang-orang. Dan kalau memang diniatkan dari awal, tidak peduli kita pakai gratisan macam media blog seperti yang saya ceritakan di atas, atau keluar modal sedikit, yang lebih eksklusif punya domain sendiri. Plus ekstra upaya membuat desain web-nya sendiri.

Lalu, apa tujuan Anda tampil di internet?[pa]

30 Oktober 2007
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com – home improvement

h1

INTERNET BAGAI SEBUAH MAGNET by Pitoyo Amrih

Agustus 16, 2008

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya

Beberapa bulan terakhir ini hampir setiap dua malam sekali, acara televisi di rumah seolah diakuisisi oleh istri saya dengan me-manteng sebuah acara reality-show Supermama di salah satu stasiun TV Swasta Nasional. Acara ini pun beberapa kali sempat mencuri perhatian saya. Bukan pada esensi atau konsep acara itu sendiri yang menurut saya sesuatu hal yang biasa, tapi ada hal yang membuat saya tertarik pada acara ini adalah sosok sang presenter Eko Patrio. Menurut saya dia ini luar biasa, dengan acara yang kurang lebih berdurasi lima jam. Ditayangkan secara langsung tiga kali seminggu, bagaimana dia bisa membawakan acara sehingga selalu memberi kesan segar acara itu dari awal sampai akhir. Apa yang dia sampaikan tidak pernah basi sehingga selain dibutuhkan stamina yang prima, juga selalu diperlukan keterampilan yang selalu diasah selain tentunya talenta yang dia punyai.

Sehingga keberadaan Eko pada acara tersebut, seperti menjadi sebuah magnet tersendiri. Terbukti ketika suatu saat Eko tidak hadir karena suatu hal sehingga posisinya sebagai host acara digantikan orang lain pada suatu tayangan, konon katanya SMS yang masuk ke acara tersebut bukannya dalam rangka polling terhadap peserta, tapi justru berisi pertanyaan mengapa Eko tidak hadir. Dan pada kenyataannya juga seperti ada yang hilang ketika Eko tidak hadir di sana pada acara tersebut.

Tentunya di artikel ini saya tidak sedang mengulas panjang lebar tentang Eko dengan acara ‘Supermama’-nya. Tapi fenomena bagaimana sosok Eko ini menjadi daya tarik yang luar biasa bagi acara tersebut, mengingatkan saya pada media internet yang beberapa minggu terakhir ini saya bicarakan.

Terlepas dari ‘peristiwa’ –yang menurut saya menarik- atas gugurnya perusahaan-perusahaan dotcom beberapa tahun kebelakang, media internet sebagai media massa sebenarnya termasuk sebuah media yang paling fenomenal ditinjau dari pertumbuhan ‘rating’ penggunanya –atau pemirsanya-.

Suatu ketika HBO pernah memberikan data terhadap khalayak di Amerika Serikat tentang jumlah interaksi masyarakat Amerika terhadap media. Butuh 38 tahun untuk media radio sehingga bisa menembus angka 50 juta pemakai di Amerika. Untuk televisi, lebih singkat, hanya butuh 13 tahun. Jaringan media lewat kabel (fax, telepon, TV kabel), sekitar 10 tahun. Dan terakhir media Internet, ternyata hanya butuh 5 tahun!

Menurut saya hal ini luar biasa. Mungkin itu pula yang menyebabkan sempat beberapa tahun lalu perusahaan dotcom merugi karena terlalu berharap banyak dengan pertumbuhan yang begitu besar. Seperti seorang Eko yang menjadi magnet bagi sebuah acara reality-show yang saya ungkap di atas, internet ini juga seolah menjadi magnet bagi khalayak di awal kemunculannya. Saking kuatnya magnet itu, sehingga 5 tahun pemakai begitu terpukau hanya ‘memandangi’ saja media internet, masih ‘kikuk’ dan ‘kebingungan’ sendiri untuk berinteraksi dengannya. Mungkin itulah kenapa perusahaan dotcom itu berguguran. Mereka terlalu berharap banyak di awal. Berharap orang yang memakai internet, serta merta menguasai dan bisa dengan nyaman memanfaatkannya.

Pada artikel saya terdahulu, saya bicara mengenai pentingnya bagaimana kita menyiapkan ‘wajah’ usaha kita di internet. Sampai di situ kita mungkin akan bertanya-tanya, lalu ketika ‘wajah’ itu telah bisa dibuat begitu ‘cantik’-nya, apakah media internet ini bisa begitu istimewa sehingga orang berkeinginan dapat selalu dengan mudah melihat kecantikannya? Kelebihan apa lagi bagi seseorang yang menjalankan usahanya lewat media internet, dibanding menggunakan media lainnya.

Sebuah pendefinisian yang menarik pernah disampaikan oleh seorang pakar telekomunikasi dari MIT, bernama Joseph Carl Robnett Linklider. Dia menuliskan opininya lewat beberapa artikel di awal-awal dibangunnya infrastruktur komputer terhubung. Bahkan di awal sekali generasi internet itu, Linklider ini sudah memiliki visi terhadap internet, sehingga dia menjuluki media internet, sebagai ‘Galactic Network’. Diartikan sebuah jaringan yang bisa dilihat sebagai kumpulan individu yang berinteraksi, terhubung secara bersama-sama, dan luar biasa banyak jumlahnya!

Kelebihan yang pertama adalah bagaimana media internet ini mampu membuat identifikasi yang unik pada setiap penggunanya. Misalnya bila Anda beriklan lewat radio atau televisi, bisakah secara tepat kita menghitung berapa jumlah pemirsa yang melihat iklan kita? Lembaga survei terhadap hal ini memang ada, tapi itu tetap perlu memasang alat tertentu pada responden. Tapi apakah hal itu secara tepat dapat mewakili? Tidak ada orang yang bisa mengamini seratus persen terhadap survei rating media radio dan televisi. Tapi internet, kita dapat secara tepat melakukan statistik terhadap trafik pengunjung yang lalu-lalang di situs kita secara tepat! Karena memang setiap pengguna memang teridentifikasi secara unik. Bila mana Anda melakukan jajak pendapat lewat telepon atau SMS misalnya, siapa yang dapat menahan seseorang mengirim polling lebih dari satu SMS pada nomor yang sama? Tapi lewat media internet, dengan pemrograman filtering IP address yang tepat, tidak mungkin orang melakukan jajak pendapat dua kali di komputer terhubung yang sama.

Kelebihan kedua adalah, apa yang disebut dengan human-friendly addressing. Coba bayangkan bila saja ada seratus stasiun TV yang dapat diakses televisi kita di rumah. Anda mungkin dalam rangka kemudahan bisa memprogram TV Anda, memberi nama satu-satu setiap stasiun TV untuk memudahkan mengingat. Channel satu televisi A, channel dua televisi B, dan seterusnya. Tapi ketika pindah ke TV tetangga, apakah channel satu pasti televisi A, belum tentu. Nah,.. di internet ini ada sistem yang disebut DNS (Domain Name System). Memang alamat setiap situs, aslinya dia hanya beralamatkan deretan angka-angka. Misal http://66.338.134.303. Tentunya cape’ deh kalau kita harus mengingat-ingat alamat situs seperti demikian. Dengan DNS, alamat tersebut bisa dikonversi misal menjadi http://pitoyo.com. Mudah diingat dan unik (hanya satu)! Misal suatu spot iklan di televisi menampilkan alamat sebuah perusahaan, ketika orang butuh alamat perusahaan itu, dia harus melototi acara TV, menunggu pas iklan, cari iklan perusahaan tadi. Dengan internet, cukup pakai komputer terhubung, lewat search-engine, ketik nama perusahaan, langsung bisa terpampang perusahaan yang dicari.

Bayangkan sebuah perusahaan fashion yang mampu melayani pemesanan secara costumize. Mungkin sang konsumen bisa mengenal perusahaan fashion itu lewat iklan radio. Tapi bagaimana mengoptimumkan ke-costumize-annya, ketika sang konsumen harus mengirim desain yang dimaui ke perusahaan fashion itu? Hanya omongan lewat telepon hampir pasti akan terjadi distorsi informasi. Kirim gambar lewat faksimili tidak ada warnanya. Kirim foto lewat pos butuh waktu. Sehingga kelebihan ketiga, media internet seperti yang dikemukakan Linklider adalah apa yang disebut packet switching. Dimana di internet memungkinkan antar individu saling kirim data. Data yang bisa berupa gambar, video, file text, dsb.

Keunikan media internet berikutnya, adalah apa yang disebut dengan routing. Mengapa radio yang disiarkan di Jepang sono tidak bisa tertangkap oleh kita yang tinggal di Indonesia? Karena masalah jarak! Mengapa siaran televisi analog begitu rentan terhadap gangguan? Pernahkan Anda membayangkan, misal ada sebuah situs yang menyediakan layanan gratis download musik dengan format MP3. Sangat dimungkinkan dalam waktu bersamaan bisa jadi ratusan orang akan men-download file tersebut dalam waktu bersamaan! Dan hampir pasti setiap orang akan mendapatkan file hasil download secara sempurna. Bisa menyimpan dan setiap saat mendengarkan lagu tersebut dengan baik. Itulah penjelasan sederhananya kemampuan routing pada internet! Dan jangan heran, ketika saat ini pun banyak siaran televisi dan radio yang nebeng ke jalur digital internet, agar bisa dilihat dan didengar dengan jangkauan lebih luas dan kualitas yang lebih bagus. Tidak lain dalam rangka memanfaatkan kelebihan routing pada media internet.

Di ranah teknis internet, ada yang disebut TCP (Transmission Control Protocol). Semacam bahasa baku yang memungkinkan komputer berbagai merek, software dari banyak pabrikan, programer dari berbagai bahasa, bisa saling berkomunikasi. Sehingga bisa menjamin media internet dari segi reliabilitas. Sesuatu yang belum tentu ada pada media lain. Misal Anda beli film format DVD di Eropa, Anda jangan seratus persen pasti akan bisa diputar pada DVD player produksi sini. Seperti halnya handphone GSM tidak bisa ‘dipaksa’ memakai jalur CDMA. Beda dengan mobile laptop Anda yang berfasilitas wi-fi, .. di mana pun ada free hotspot, pasti bisa browsing! Kurang lebih mungkin seperti itu analoginya.

Kelebihan internet lagi adalah masalah stndardisasi. Entah mengapa –mungkin karena hukum pasar-, internet ini, baik dari segi infrastruktur jaringan, kompatibilitas hardware dan software, maupun perilaku budaya orang-orang yang menggunakannya, perlahan tapi pasti, seperti menuju pada sebuah pola yang mau tak mau, para pengikut di belakangnya harus tunduk pada ‘aturan main’ yang sudah ada. Sesuatu yang secara tidak langsung telah menjadi standar. Beberapa sudah dibakukan, tapi yang belum pun akan tunduk pada ‘aturan’ mayoritas. Misalnya, yang namanya koneksi peripheral USB, di mana-mana kemungkinan socket-nya hanya itu-itu saja. Bandingkan yang sederhana saja, dengan plug alat listrik Anda di rumah, yang masih memiliki variasi lebih banyak, walaupun umur teknologinya jauh lebih lama.

Dengan kelebihan ini, sebenarnya juga tak terlalu mengherankan bila saja media internet hanya dalam waktu 5 tahun saja sudah menjangkau 50 juta pemakai di Amerika. Di Indonesia juga kabarnya dari tahun ke tahun, pertumbuhan pemakainya naik secara eksponensial. Sebagai analogi, mungkin saya terlalu jauh bila saja saya mengkaitkan hal ini dengan seorang Eko Patrio yang mampu menjadi magnet bagi pemirsa pada sebuah acara televisi dibanding presenter lainnya. Tapi sungguh, penglihatan saya melihat bahwa internet itu juga sudah seperti magnet bagi interaksi antarindividu di dunia, dibanding media lainnya…[pa]

3 Februari 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com – home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

h1

MEMINANG PERUSAHAAN HOSTING by Pitoyo Amrih

Agustus 16, 2008

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya

Anda boleh tertawa membaca judul yang saya pilih di atas. Tapi menurut saya, selama lebih dari lima tahun berhubungan dengan beberapa perusahaan hosting, ‘meminang’ sepertinya menjadi sebuah analogi yang tepat ketika kita akan menjatuhkan pilihan kepada sebuah perusahaan hosting tempat file-file situs kita dititipkan.

Seperti yang sudah beberapa kali saya ceritakan, ketika kita menjatuhkan pilihan bahwa situs yang akan kita bangun adalah sebuah situs yang akan menjadi milik kita secara eksklusif, selain sewa nama domain, konsekuensi logis lainnya adalah kita perlu menggandeng perusahaan hosting sebagai tempat kita menyimpan file-file situs kita. Karena menurut saya –kecuali bagi perusahaan besar yang juga memerlukan server dedicated line untuk operasionalnya-, bekerjasama dengan sebuah perusahaan hosting adalah sebuah pilihan yang lebih beralasan tinimbang mengadakan sendiri server yang terhubung penuh dengan jaringan.

Dan pengalaman saya berkata, bahwa bekerja sama dengan sebuah perusahaan hosting, idealnya adalah sebuah kerjasama yang ‘kekal’. Karena saya pun pernah mengalami bagaimana repotnya –walaupun segalanya mungkin dan tampaknya tidak begitu susah untuk dilakukan- berganti-ganti perusahaan hosting dan memindahkan file kita dari hosting satu ke hosting lainnya. Selain kita harus memindahkan file situs kita beserta seluruh database-nya, memeriksa integritas links-nya setelah dipindahkan, juga yang –bagi saya- cukup rumit adalah memeriksa kompatibilitas file kita terhadap server di perusahaan hosting baru. Dan tak jarang masalah ini memaksa kita harus memeriksa kembali satu per satu, baris demi baris script pada file-file website kita. Sehingga menurut saya tidak perlu berlebihan bila saja, ketika di awal kita akan memilih di mana musti ber-hosting, sebaiknya sudah berpikir bahwa kerjasama itu sebaiknya diproyeksikan kepada sesuatu yang langgeng. Konsekuensinya adalah kita harus benar-benar memeriksa calon perusahaan tempat kita berhosting. Berikut adalah hal-hal yang bisa menjadi pertimbangan.

Yang pertama, adalah lokasi fisik perusahaan hosting ini. Walaupun sebuah perusahaan hosting, biasanya lebih banyak menjajakan produknya melalui berbagai metoda iklan di internet, termasuk juga dalam hal negosiasi, kemudahan transaksi secara on-line, termasuk teknis uploading file yang bisa dilakukan dari mana pun, dalam hal ini saya masih termasuk orang yang sedikit konvensional. Yaitu dengan terlebih dahulu memastikan kondisi secara umum perusahaan hosting ini. Gambaran bagaimana manajemen perusahaan ini, bagaimana para staf-stafnya memperlakukan kita selaku calon pelanggan. Dan, rasanya hal itu akan terasa lebih ngeh, bila saja kita bisa menyempatkan diri datang ke kantor mereka. Profesionalitas mereka para pelaku pengusaha hosting ini tidak harus ditunjukan oleh kantor yang mewah atau skala perusahaan yang besar. Tapi bagi saya lebih kepada komitmen mereka terhadap perusahaan mereka sendiri dan untuk bekerja sama dengan kita yang bisa jadi akan terjadi dalam jangka waktu yang sangat lama. Bagaimana keterbukaan mereka dalam hal mengelola bisnis hosting mereka? Apakah mereka mengelola hardware server sendiri? Bila ya, bagaimana mereka menerapkan manajemen pemeliharaan terhadap perangkat hardware tersebut? Atau, bila mereka adalah reseller, tentunya mereka seharusnya akan secara terbuka menjelaskan di mana server fisik, routing-nya, rating terhadap perusahaan principle mereka.

Pertimbangan berikutnya adalah bagaimana si perusahaan hosting ini menghargai privilege kita terhadap nama domain yang kita miliki. Karena saya pikir, hampir semua perusahaan hosting biasanya memberikan pelayanan paket dengan pengurusan nama domain sekaligus. Nah, inilah yang kita mesti jeli. Kita di awal bisa menanyakan, sampai di mana nantinya kita berhak atas kepemilikan nama domain tersebut. Suatu ketika pernah seseorang mengirim e-mail kepada saya mengenai sampai di mana batasan seorang pemilik situs terhadap file-filenya, beserta kepemilikan atas nama domain. Dia bercerita panjang lebar kepada saya mengenai paket yang telah dia beli kepada sebuah perusahaan ISP, yang komplit. Mudah memang, sekali bayar –dengan harga yang bagi saya lumayan mahal- dia langsung mendapatkan nama domain yang dia inginkan, software situs langsung jadi tinggal pakai. Tapi dengan berjalannya waktu, dia mulai sadar bahwa akses yang dia dapatkan hanya seputar pada CMS-nya website tersebut. Jangankan mengakses Control Panel dan melakukan pengaturan terhadap domain, bahkan melongok file-file situsnya sendiri pun dia sama sekali tidak memiliki otoritas.

Konsep dasarnya bagi saya, sebenarnya bahwa uang yang kita bayarkan adalah untuk sewa kepemilikan domain, dan sewa tempat bagi file-file situs kita. Kewajiban pemilik hosting adalah menyediakan fasilitas dan pengaturan bagi file kita dan segala macam fasilitas ikutan sebuah website, sehingga aman, mudah diakses, user-friendly, dan andal terhadap gangguan. Sehingga tetap kuasa penuh atas file tersebut beserta kepemilikan domain, hanya ada pada kita.

Berikutnya adalah layanan yang dijanjikan oleh para penyedia hosting tersebut. Seperti sebuah pepatah, bahwa nothing is too good to be true. Demikian juga berlaku pada dunia per-hosting-an ini. Bagaimanapun juga tetap ada bentuk kompromi terhadap suatu hal. Misalnya, kita tidak bisa mendapatkan ‘kecepatan’ dengan ‘akurasi yang tinggi’ sekaligus. Karena memang demikianlah hukum alamnya. Semakin cepat, mungkin kita akan mengorbankan akurasi. Bila ingin akurasi tinggi, mungkin kita harus kompromi terhadap target waktu.

Saya terkadang membaca sebuah iklan perusahaan hosting yang menawarkan segalanya unlimited. Sesuatu yang menurut saya hampir tidak mungkin dipenuhi. Saya coba ambil contoh misalnya antara layanan kapasitas dengan pemakaian bandwith. Secara logika tidak mungkin sebuah perusahaan hosting menawarkan kedua hal itu unlimited. Ketika kapasitas dibuka lebar secara bebas pastilah akan menghambat pemakaian bandwith. Atau ketika pemakaian bandwith ketersediannya besar, pastilah harus membatasi kapasitasnya.

Secara teknis, coverage layanan itu dibagi pada beberapa kategori, yaitu: Mail. Adalah layanan untuk pengaturan e-mail pada domain yang kita miliki. Seharusnyalah kita pemilik domain memiliki kebebasan terhadap pengaturan mail kita. Kita bisa bebas membuat alamat e-mail (email account) pada nama domain kita. Membuat batasan kapasitas memori. Utilisasi terhadap mail seperti auto forwarder, filtering, spam blocking, dan sebagainya.

Kemudian layanan akses File. Ini seperti sebuah Windows Explorer bagi semua file kita yang tersimpan di server. Bisa meng-copy, delete, paste, membuat back-up, menciptakan FTP account. Kemudian layanan Statistic Log terhadap situs kita. Sudah menjadi suatu yang umum, kita sebagai pemilik domain sebuah situs, sebaiknya tahu statistik terhadap website kita. Berapa besar traffic menuju situs kita, trennya, bahkan bisa dilacak juga siklusnya secara harian, bulanan, tahunan. Seperti situs saya Pitoyo.com misalnya, saya bisa tahu ketika saya amati satu tahun terakhir ini, salah satu kesimpulan saya bahwa siklus pengunjung terbanyak setiap harinya adalah justru pada lewat tengah malam sampai pagi. Saya sendiri masih belum tahu kenapa demikian, tapi hal ini dapat membantu saya untuk pertimbangan efektivitas dalam hal updating misalnya, di mana sebaiknya saya tidak melakukan updating situs pada jam-jam sibuk pengunjung. Di Statistik ini kita bisa lihat juga referer situs dari mana saja yang menuju ke situs kita, berapa kali dalam sebulan pengunjung mengalami error ketika browsing ke situs kita dan sebagainya.

Kemudian layanan security. Baik pengamanan server secara kolektif di wilayah tanggung jawab pemilik hosting, kesiagaannya selama 24 jam sehari 7 hari seminggu menjamin keamanan situs kita. Maupun pengamanan yang menjadi hak kita untuk bisa kita atur sendiri. Seperti misal password untuk menuju ke folder file-file kita, adalah menjadi hak sepenuhnya kita. Seharusnya kita bisa dengan mudah mengubah password dan melakukan pengelolaan password bila saja website kita memungkinkan hierarki multi-user. Termasuk juga kita bisa memproteksi terhadap kemungkinan situs lain yang nebeng jalur bandwith kita.

Domain, adalah sepenuhnya hak kita. Dan kewajiban bagi pemilik hosting untuk menyediakan layanan sehingga kita bisa melakukan pengelolaan dan utilisasi terhadap domain kita. Membuat subdomain misalnya, atau menciptakan re-direction pada alamat-alamat tertentu pada situs kita.

Kemudian adalah layanan Database. Sekitar sepuluh tahun lalu, kebutuhan sebuah fungsi database pada sebuah program website belumlah sepenuhnya mutlak. Ketika itu, website masih berupa sebatas kebutuhan untuk menampilkan hal-hal informatif yang sifatnya statis saja. Sehingga layanan database biasanya ditawarkan terpisah. Tapi saat ini, tuntutan sebuah website, haruslah website yang selalu menyajikan update informasi dengan tidak menghapus informasi-informasi terdahulu yang telah tertampil. Di sinilah pentingnya sebuah database. Yang menjadi tuntutan yang harus ada dalam sebuah situs untuk bisa mengatur informasi secara handal yang begitu banyak (karena selalu update dari waktu ke waktu). Jadilah sekarang paket layanan database menjadi sebuah layanan yang standar harus ada. Termasuk layanan kemudahan mengakses database.

Di luar itu, juga ada layanan-layanan advance yang biasanya juga diberikan bagi para webmasters yang memiliki pengetahuan lebih dalam, tentang pemrograman internet, seperti pre-script installer untuk menambahkan fungsi-fungsi pada situs kita, apache handler, di mana kita bisa memberi perintah-perintah khusus bagi engine apache terhadap situs kita, dan sebagainya.

Dan semua layanan itu, sudah kewajiban bagi para penyelenggara hosting untuk mengemasnya dalam sebuah Control Panel yang mudah digunakan. Melakukan utilisasi terhadapnya, lengkap dengan tutorial dan fungsi ‘help’ pada toolbars pada control panel tersebut.

Kemudian pertimbangan yang terakhir, yang tak kalah penting adalah masalah harga. Seperti sebuah pengertian bahwa mahal murahnya sebuah harga bisa berpengaruh pada layanan. Demikian juga bagi penyelenggara hosting. Kita harus jeli ketika sebuah hosting menawarkan harga murah, karena bisa jadi akan mengorbankan kelengkapan layanan yang menjadi tuntutan seperti saya jabarkan di atas. Harga mahal juga belum tentu jaminan segalanya pasti beres. Sehingga dibutuhkan kejernihan, untuk secara objektif membuka alternatif-alternatif terhadap –sebisa mungkin pada banyak- perusahaan hosting, membuat daftar plus minusnya, untuk pada akhirnya memutuskan sebuah pilihan dengan harapan uang yang kita keluarkan sepadan dengan layanannya.

Itulah mengapa keputusan memilih perusahaan sebuah hosting seperti layaknya meminang jodoh. Repot kalau harus ganti…hmm.[pa]

12 Juni 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com – home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

h1

MEMBANGUN TEMPAT DI DUNIA MAYA by Pitoyo Amrih

Agustus 16, 2008

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya

Mungkin karena tema yang saya angkat secara rutin saat ini di pembelajar.com tentang bisnis di internet, dalam beberapa minggu ini saya lumayan banyak dibanjiri pertanyaan-pertanyaan seputar dunia internet. Baik melalui e-mail, ada juga yang kebetulan domisilinya dekat dengan saya tinggal, datang ke rumah saya diskusi mengenai dunia internet dan peluang bisnis di dalamnya. Bahkan ada juga yang tahu-tahu menelepon saya, tanya panjang lebar tentang internet. Sepanjang apa yang saya tahu dan saya punya kesempatan untuk menjelaskan, saya dengan senang hati akan memberikan pendapat saya atas hal tersebut.

Dari sekian banyak pertanyaan, apa yang paling menjadi keingintahuan mereka adalah bagaimana memulai bisnis di internet seputar hal-hal yang bersifat teknis. Beberapa kali artikel saya sebelumnya memuat lebih banyak pada wilayah ide dan gagasan. Kalau meminjam konsepnya Stephen Covey adalah “Begin with the end in mind”, apa yang saya utarakan di artikel-artikel ini masih berkutat pada wilayah konsep, teori-teori –walaupun mungkin masih terlalu “jalanan”- tentang internet marketing. Juga wawasan tentang bagaimana sebuah bangunan bisnis internet itu sebaiknya dibuat.

Sehingga mungkin benar, beliau-beliau yang bertanya kepada saya adalah orang-orang yang kebetulan mengikuti artikel saya di situs ini, berusaha memberi apresiasi dan tampaknya mulai tak sabar ingin segera meminta pendapat saya tentang bagaimana memulainya terutama dari hal teknis.

Semoga dari tulisan saya sebelumnya anda cukup mempunyai sebuah gambaran tentang “apa yang akan anda lakukan” dalam memulai usaha di internet. Termasuk di dalamnya, tentunya pemikiran-pemikiran sesuai konsep anda sendiri terhadap “apa yang anda jual” nantinya, termasuk pertanyaan seputar “mengapa anda memilih konsep itu”. Setiap orang tentunya akan selalu unik. Walaupun alur strategi, jalan berpikir, oleh para pelaku usaha di internet bisa jadi sama atau sejalan, tapi secara detail konsep pastilah akan selalu beda. Karena bagaimana pun juga untuk bisa menjual produk harus bisa memperlihatkan sebuah perbedaan. Sebuah differensiasi!

Seperti para penanya itu, mari kita bisa bersama-sama masuk ke dalam “bagaimana hal itu bisa kita lakukan”.

Petama sekali anda butuh tempat. Seperti sebuah tempat fisik. Tempat di dunia maya juga kurang lebih memiliki analogi yang sama. Tempat memiliki alamat, sehingga orang bisa “berjalan” berkunjung ke sana. Tempat juga harus memiliki teritori atau wilayah sebagai batasan wilayah usaha kita. Sedikit berbeda dengan tempat dunia nyata, yang bilamana kita memiliki tempat usaha bisa secara otomatis akan memiliki alamat usaha –selama disana telah dibangun jalan akses menuju ke sana-. Di dunia maya, memiliki wilayah tidak serta merta memiliki alamat. Justru yang lebih penting, pertama kali kita harus memiliki hak atas alamat tersebut. Sedang secara fisik tak lain adalah sebuah wilayah yang ditengarai dengan besar memori yang kita pakai di tempat situs kita berhosting.

Tempat yang bisa anda dapatkan secara gratisan, relatif lebih mudah dan yang pasti tidak perlu keluar biaya, hanya saja memiliki konsekuensi seperti yang pernah saya sampaikan pada tulisan-tulisan saya sebelumnya. Di “tempat” gratisan ini anda akan mendapatkan alamat sebagai subdomain dari penyedia jasa layanan sekaligus mendapat jatah sekian Megabyte memori sebagai batasan anda bisa menyimpan segala hal dan informasi tentang usaha anda. Ada yang sifatnya free-domain kosong, sehingga anda bisa isi file-file webpage anda. Ada juga yang sifatnya ready-to-use site, seperti banyak yang diberikan oleh layanan penyedia jasa blogging yang juga menyediakan fasilitas store atau company profile.

Untuk yang memilih memulai dengan memiliki alamat situs unik sendiri, tentunya yang perlu dilakukan pertama kali adalah memilih nama alamat itu. Tidak seperti alamat di dunia nyata, di dunia maya kita bisa secara bebas memilih nama alamat tersebut selama alamat tersebut belum dipakai orang. Dan terhadap nama tersebut, kewajiban kita adalah kurang lebih seperti membayar sewa atas nama tersebut. Nama itu biasa disebut sebagai domain. Seperti yang pernah saya ceritakan, alamat situs, sejatinya, tak lain adalah sebuah deretan angka. Sebuah lembaga ditunjuk oleh otoritas dunia maya pada sebuah negara untuk mengelola sebuah program yang mengkonversi deretan angka tersebut menjadi sebuah nama unik. Pada lembaga itulah kita harus membayar kewajiban tadi. Kalau dalam hitung-hitungan bisnis, sebuah domain name tidaklah mahal, hanya pada hitungan puluhan ribu sampai beberapa ratus ribu per tahun! Domain name yang tampak bergengsi untuk dunia usaha adalah .com. Diatur oleh sebuah lembaga yang memiliki otoritas dari pemerintah Amerika Serikat. Saya tidak tahu mengapa domain ini dianggap bergengsi. Mungkin karena domain yang memiliki tarip tertinggi.

Pemerintah Indonesia juga memiliki lembaga yang memiliki otoritas terhadap alamat domain .co.id bagi para pemilik usaha di internet. Dahulu pernah terdengar kabar bahwa domain ini akan diganti yang lebih simpel hanya dengan .id. Tapi prakteknya sampai sekarang kok belum terealisasi. Untuk domain situs usaha .co.id, biayanya lebih murah dari .com. Hanya saja registrasinya agak lebih rumit. Para pengusaha yang akan mengaplikasi domain ini harus menyertakan Surat Ijin Usaha, NPWP, bahkan terkadang juga harus menyertakan bukti hak atas merk, bilasaja nama domain itu secara tersurat terpersepsikan sebagai sebuah merk dagang. Memang ini adalah sebuah tindakan antisipasi dari lembaga otoritas domain terhadap penyalahgunaan merk dagang. Tapi dari kacamata lain hal ini sebenarnya sekaligus sebagai bukti bahwa pengusaha-pengusaha pemilik merk dagang di wilayah Indonesia belum sepenuhnya menganggap penting untuk melakukan “pesan tempat” atas nama merk dagang mereka di dunia internet. Sebuah dunia yang saya yakin akan mendominasi komunikasi beberapa tahun lagi.

Sementara di Amerika, .com lebih bebas. Siapa pun bisa pesan nama apa saja, entah nama itu sebenarnya sudah menjadi merk dagang orang lain. Mereka lebih melepas itu terhadap mekanisme pasar. Biarlah sang pemilik merk musti segera meregistrasi nama mereka dengan harga normal. Bila tidak, mereka akan berhubungan dengan makelar-makelar domain. Anda boleh tidak percaya, tapi yang saya tahu, pemegang domain bussiness.com baru-baru ini sudah ditawar untuk dibeli, seharga beberapa juta dolar.

Alamat domain, setiap saat anda bisa chek ketersediaannya, apakah sudah dimiliki orang atau belum, secara mudah di whois.com. Sekaligus di situ anda bisa pilih dan melihat-lihat nama domain yang kira-kira cocok dan bisa anda pakai, atau mungkin bisa juga melalui situs itu anda bisa memberi penawaran kepada pemilik nama domain, bila kebetulan nama domain yang anda inginkan telah menjadi milik orang lain. Di situ itu anda juga bisa sekaligus register nama domain. Atau bila tidak ingin repot, para penyedia jasa hosting, sebenarnya juga bisa menguruskan nama domain untuk anda.

Yang berikutnya adalah mengupayakan tempat secara fisik. Yaitu tempat yang akan menyimpan file-file yang berisi situs kita. Dimana alamat domain kita akan di-set untuk mengarah ke tempat file ini tersimpan. Tempat ini tentunya berwujud sebuah komputer sekelas server, dan harus selalu menyala selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Dengan harapan setiap saat siapa saja akan bisa mengakses alamat ini dan menuju file-file yang berisis informasi tentang usaha kita tersebut.

Kita boleh melakukan investasi, menyediakan server, dan terhubung selama 24 jam on-line untuk menyimpan file-file tentang usaha kita. Tapi hal ini sebenarnya tidak perlu. Karena sekarang sudah banyak sekali pengusaha ISP (Internet Service Provider) yang memiliki komputer server terhubung 24 jam, dan memberikan layanan menyewakan tempat sejumlah memori sesuai paket yang ditawarkan, untuk menyimpan file-file informasi usaha kita. Jasa layanan inilah yang disebut dengan jasa hosting. Baik yang bersifat independen, mereka memiliki sendiri fisik komputer dan mengelola manajemen software dan pemeliharaan hardware-nya sendiri. Ataupun para reseller perusahaan hosting besar, dimana para reseller hanya melakukan manajemen software. Sedang pemeliharaan hardware –karena ini sebenarnya bagian yang paling susah menurut saya, menuntut sistem manajemen pemeliharaan yang handal- menjadi tanggung jawab main principle-nya. Anda bisa bayangkan bahwa hardware server dan segala macam peripheral-nya yang tetap handal harus bisa dijaga pada ruang bebas debu, kering dan dingin. Dan bagi pemelihara hardware yang profesional, server down satu menit per bulan saja sudah dianggap terlalu lama bagi mereka!

Para penyedia layanan hosting saat ini, selain mereka berlomba menawarkan paket harga murah, selain layanan basic mereka menyewakan space beserta pemeliharaan terhadap file-file yang tersimpan dan memberikan jaminan perlindungan terhadap segala bentuk virus, worm, hacking, dsb, saat ini para ISP juga berebut memberi layanan lebih lainnya seperti user-friendly CMS terhadap file-file yang tersimpan, troubleshoot 24 jam, memory-space ekstra, bandwith yang lebar, pre-script installer yang seharusnya bayar, bisa diunduh secara gratis melalui mereka.

Kita sudah pilih alamat domain, pertanyan berikutnya kemana kita musti cari hosting yang tepat?[pa]

1 Juni 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com – home improvement

h1

MEMILIH TEMA SITUS by Pitoyo Amrih

Agustus 16, 2008

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya

Detik.com adalah salah satu situs yang sukses dalam membangun awareness bagi para netter. Sehingga cukup tajam diferensiasi situs ini terhadap situs-situs penyaji berita kebanyakan lainnya. Dan, hasilnya memang luar biasa. Beberapa tahun terakhir ini, detik.com tak pernah beranjak dari sepuluh besar ranking jumlah hit terbanyak di Indonesia berdasar ranking yang dihitung oleh engine Alexa.com. Secara dunia, saat ini detik.com berada pada urutan fluktuatif dari hari ke hari antara ranking tiga ratus sampai lima ratus.

Apa yang membuat detik.com bisa berpredikat seperti ini? Menurut saya, salah satunya adalah karena kekuatan tema yang dipilihnya sejak awal. Tidak sekadar sebagai portal penyaji berita, tapi juga terkenal sebagai penyaji berita yang paling up to date. Mungkin kejadian saat ini bisa ter-publish hanya dalam hitungan tidak lebih dari satu jam sejak kejadian.

Apa yang bisa kita tarik pelajaran dari pengalaman mereka? Adalah apa yang sudah saya sebut di atas sebagai kekuatan tema! Tema mungkin lebih mirip sebagai sebuah konsep akan bagaimana kita menyajikan –apa pun- yang kita tawarkan kepada para konsumen, para web-browser di dunia maya.

Tema ini yang juga nantinya menentukan modul-modul program apa saja yang akan kita pilih untuk membangun komponen situs kita. Tema ini juga yang nantinya kita maksudkan dapat menggiring segmentasi para pengunjung situs kita. Tema pula yang bisa memengaruhi orang untuk selalu berkunjung di situs kita atau sekadar numpang lewat untuk kemudian dilupakan. Tema pula yang bisa memengaruhi para pengunjung untuk kemudian mengambil keputusan bertransaksi melalui situs kita. Tema juga yang akan menentukan berapa besar tempat (memori di webserver yang harus kita sewa) yang harus kita sediakan di awal.

Berikut beberapa tema yang coba saya rangkum dari sekian banyak contoh situs yang saya jelajahi:

Tema Community Gathering. Sekilas memang tema ini sekadar sebagai wadah sebuah kemunitas untuk berkumpul, berdiskusi, ngobrol-ngobrol berbagai topik yang telah didefinisikan. Tapi bila kita bisa berangkat dari sebuah konsep bisnis yang matang, tema ini bisa juga menjadi salah satu pilihan untuk menambang keuntungan. Hal utama yang ingin diperolah nantinya, adalah sebuah loyalitas para member untuk selalu berkunjung ke situs ini, sehingga statistik pengunjung bisa tinggi. Yang pada akhirnya, apa yang bisa ‘dijual’ tentunya adalah tempat di halaman situs ini. Seperti di dunia nyata, semakin tinggi lalu-lalang orang lewat pada sebuah lokasi, maka semakin mahal lahan itu.

Tema ini tentunya akan membawa kita untuk fokus pada pilihan modul-modul yang mendukung hal ini. Situs dengan tema ini, tentunya akan menyediakan fasilitas seperti forum diskusi, mailing-list, guest-book.

Tema Company (Personal) Profile. Saya melihat banyak orang seperti terjebak kepada pilihan tema yang kurang terfokus saat membangun konsep pembuatan situs. Ini dibuktikan dengan banyaknya (biasanya situs perusahaan-perusahaan besar yang kurang memiliki staf IT yang andal) situs yang memiliki struktur rumit, kapasitas memori dan bandwith yang besar. Sementara yang tertampil ‘hanyalah’ tema sebuah Company atau Personal Profile.

Memang boleh-boleh saja ketika sebuah perusahaan Brick and Mortar yang mulai menggeser ‘medan’ kompetisi bisnisnya ke arah Brick and Click. Memilih sekadar menampilkan semua informasi tentang perusahaan dan produk di dunia maya. Dan, bila memang tema ini yang dipilih, sebenarnya sumber daya yang dibutuhkan tidaklah terlalu besar. Baik dari sisi software maupun hardware. Hal inilah yang terkadang tidak begitu dipahami oleh para pelaku usaha, sehingga kebanyakan yang terjadi, mereka begitu banyak mengeluarkan sumber daya atas tema yang mestinya bisa diciptakan dengan cara yang sederhana dan ekonomis.

Situs-situs blog, bagi para member-nya bisa dikategorikan masuk ke dalam tema ini.

Tema Function Engine. Tema ini memang unik dan agak eksklusif. Karena jelas tema ini hanya akan dimonopoli oleh para ekspert di bidang IT. Yang selain dituntut kreativitas untuk menciptakan hal-hal baru untuk membuat sebuah kebutuhan akan fungsi di dunia maya, juga tentunya dituntut pengetahuan dan skill dengan batas minimal tertentu untuk merealisasikannya. Apa yang ingin ditambang oleh pengambil tema ini tentunya adalah sebuah kebutuhan dan ketergantungan. Dan ujung-ujungnya adalah jumlah kunjungan.

Yang sudah tercipta dan cukup sukses adalah semacam Google dengan engine pencarinya. Yahoo dengan web-base mail-nya. Sourceforge yang menciptakan semacam perpustakaan program-program open-source. Alexa yang memberi layanan mesin penghitung kunjungan dan merangking situs kita atas jumlah kunjungan itu. You-tube dengan layanan database streaming videonya dan bisa di-embeded di situs sembarang. Kemudian Blogspot atau Multiply yang menyediakan sarana bagi yang ingin membuat personal profile-nya di dunia maya.

Tema Portal Site. Sebuah nama yang dicomot dari fungsi sebuah portal sebagai pintu gerbang. Situs dengan tema ini juga diharapkan menjadi pintu gerbang bagi para web-browser. Situs portal biasanya justru dipilih pada tahap awal ketika sebuah definisi untuk menjaring pengunjung dan konsumen di dunia maya itu masih terlalu luas cakupan diferensiasinya.

Sebagai contoh misal pada situs saya Pitoyo.com, dengan tema yang saya usung sebuah pemberdayaan lingkup keluarga, menurut saya, di awal kancah saya terjun di hutan belantara internet, tema portal adalah yang paling cocok untuk mengajak orang berkunjung ke tempat saya. Tema portal biasanya dipilih untuk membangun sebuah keterikatan para pengunjung pada situs tersebut. Sementara pada tema community gathering lebih pada upaya mewadahi orang-orang untuk ‘berkumpul’. Tema portal menawarkan sebuah pintu masuk ke sebuah konsep spesifik yang memang diusung oleh penggagas situs tersebut. Dari situs ini orang bisa kemudian mengunjungi link-link yang disediakan yang memang satu alur konsep dengan situs tersebut.

Situs-situs berita, menurut saya termasuk dalam cakupan ini, di mana alur konsep yang ditawarkan, tentunya adalah seputar berita hangat.

Tema Webstore. Tema yang dari awal sudah dirancang untuk menjadi sebuah toko di dunia maya. Sehingga modul-modul yang dibangun pun seharusnya diarahkan pada upaya-upaya sebagai sebuah toko. Dari bagaimana cara memberi penekanan lebih pada barang-barang yang dipampang di situs. Kemudahan untuk membuat updating, promo harga pada event tertentu.

Selain pada tema function engine yang spesifik, tema webstore ini menurut saya termasuk tema yang cukup rumit bangunan struktur pemrogramannya. Ada memang saat ini yang seolah memaksakan fungsi blog (personal profile) diupayakan sebagai tema webstore. Tapi tetap yang terjadi kemudian, hal ini tidak bisa memberikan manfaat yang maksimal. Baik bagi pengunjung situs maupun pengelola website itu sendiri.

Anda bisa bayangkan, bahwa sebuah situs bertema webstore yang secara lengkap memberikan layanan pemasaran, distribusi dan transaksi kepada pengunjung situs, yang komplit seharusnya memiliki fungsi-fungsi modul seperti costumer support seperti layanan Q/A (sebelum transaksi) atau complain (setelah transaksi). Kemudian modul delivery status, pilihan shipping and handling, pilihan cara pembayaran, database konsumen yang menjamin privasi, database product content dan product information, fungsi pricing dan discount-rate. Sesuatu yang terlalu rumit untuk dipaksakan dibuat di tema personal profile (blog).

Tema Viral Marketing. Adalah sebuah tema situs yang memang disiapkan untuk menjaring afiliasi, downline member, piramide-scheme, dan sebagainya, apa pun produk yang ditawarkan. Yang saat ini begitu menjamur di dunia maya. Dari sekadar arisan berantai, produk afiliasi internet-marketing, pulsa mobile-phone, suplemen kesehatan, dan sebagainya.

Dalam perjalanan waktu, sebuah tema situs bisa bergeser ke tema lain. Baik pergeseran yang ditimbulkan oleh segmentasi pengunjung maupun pergeseran yang diciptakan oleh para pengelolanya. Pemilik situs juga bisa mencoba menggabungkan beberapa tema sekaligus, hal ini menurut saya bisa berarti sebuah kekuatan, tapi bila konsepnya kurang tajam, bisa menjadi bumerang, di mana cakupan situs akan terlalu luas. Mungkin akan banyak pengunjung, tapi kecil kemungkinan pengunjung yang sama akan kembali lagi.[pa]

12 Juli 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com – home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

h1

INTERNET BUKAN JALAN PINTAS..! by Pitoyo Amrih

Agustus 16, 2008

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya

Di situs saya Pitoyo.com, kebetulan saya sediakan juga modul Iklan Baris gratis di mana para online user bisa dengan bebas memanfaatkan fasilitas ini untuk mengiklankan produk atau usaha mereka di internet. Hanya saja Iklan Baris ini tetap dibatasi jumlah karakter dan banner yang boleh di-upload. Pemanfaatan modul ini oleh para pengguna internet hampir saya bebaskan sepenuhnya. Saya hanya membuat filter secara otomatis hal-hal yang terkait dengan pornografi, dan filter terhadap penggunaan kata yang tidak sopan.

Saya coba hampir tiap hari mengamati perilaku para pengiklan di situs saya. Dari sekian ratus pengirim iklan setiap harinya, saya melihat bahwa iklan itu masih didominasi oleh sesuatu yang terlalu diawang-awang, dan cenderung untuk bisa dikategorikan –kalau orang Jawa Timur bilang- dengan istilah mbujuki, sebuah kata ganti halus dari upaya menipu.

Silahkan Anda lihat sendiri, dan mungkin juga terjadi di banyak situs-situs lain yang juga menyediakan layanan Iklan Baris gratis, kata-kata bombastis itu banyak sekali di sana. Kata-kata seperti ‘Raup uang dalam semalam..!’, atau ada juga yang berbunyi ‘hanya modal 75 ribu, bisa menjadi 75 juta dalam sebulan..!’. Bahkan yang lebih gila lagi, ada disana kata-kata semisal ‘dapatkan rahasia teknologi internet, bobol ATM secara legal..!’, atau ‘dapatkan script sedot e-gold..! Anda bisa kaya mendadak..!’.

Saya bisa pastikan di sini, iklan-iklan seperti di atas tak lebih adalah sebuah tawaran model bisnis yang biasa disebut sebagai money-game! Tapi mengapa iklan-iklan seperti itu yang masih mendominasi?

Inilah yang seringkali saya melihat adanya salah paham orang awam terhadap dunia internet. Banyak orang menganggap internet adalah sebuah mesin ajaib yang bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan kekayaan secara instan, tanpa berusaha.

Saya kebetulan mempunyai teman yang saat ini ikut tergabung dalam organisasi sosial untuk memfasilitasi dan membantu upaya pemerintah melakukan percepatan melek internet bagi guru-guru sekolah. Dia melakukan training-training di sekolah-sekolah terutama di sekolah wilayah pinggiran kota. Apa yang teman saya ceritakan sungguh menarik, alih-alih dia memberikan pelatihan terhadap aplikasi web-browser, email, messenger, pada beberapa kali pertemuan di awal, dia disibukkan untuk memberikan penjelasan tentang apa itu komputer, bagaimana cara memegang mouse supaya tidak membuat pegel sikut. Dan pada tahapan ini pun, sudah ada diantara peserta pelatihan yang bertanya dan berharap, bahwa “internet dapat membantu mereka mendapatkan penghasilan tambahan yang menjanjikan dalam waktu singkat”.

Kalau kita menyimak sepenggal kesimpulan pada kalimat saya terakhir, mungkin ini bisa dikategorikan menjadi sesuatu yang cukup melegakan. Di mana dunia internet, ternyata telah memberikan sebuah rangsangan bagi para penggunanya untuk berkeinginan mengasah jiwa kewirausahaan. Tapi bila Anda menyimak tulisan saya dari awal, Anda mungkin juga merasakan bahwa kesimpulan yang keluar dari persepsi para guru yang menjalani pelatihan diatas bisa menjadi sebuah situasi yang menyedihkan.

Bisa dibayangkan, pada tingkat pemahaman seperti itu, bilasaja mereka melihat iklan-iklan yang bertebar di internet seperti contoh iklan-iklan yang terpampang di situs saya, mereka bisa dengan mudah terpengaruh dan cepat atau lambat banyak kemungkinan mereka akan menjadi bagian dari skema money-game yang ditawarkan. Cepat atau lambat pula mereka akan beriklan kurang lebih sama memakai kata-kata yang dipakai oleh para sponsor atau upline mereka.

Tentunya kita semua berharap hal ini hanyalah bagian dari sebuah proses evolusi yang pada akhirnya suatu saat kelak, kesimpulan setiap pengguna, internet tetaplah didudukkan sebagai fungsinya. Walaupun internet sendiri saya melihat masih ‘bergerak’ mencari bentuk dan sampai sekarang bahkan belum sama sekali ada tanda-tanda kejenuhan ide. Bahkan produk inovatif itu selalu baru dan bermunculan di internet. Baik produk hardware, software, content maupun arsitektur-nya. Tapi gambaran jelas akan fungsi internet bisa secara tajam kita artikan sebagai kemudahan dalam informasi. Lebih dari itu, dari segi e-commerce, fungsi internet adalah pada kehebatannya atas kemampuannya yang bisa meringkas jalur informasi dan distribusi sebuah produk. Yang bahkan bisa menghubungkan langsung upstream source dan downstream end-user secara langsung.

Perilaku-perilaku yang seolah-olah berusaha mempersepsikan internet bisa menjadikan seseorang ‘kaya secara instan’, tak lebih adalah sebuah mimpi yang hanya akan menghasilkan generasi pemalas. Kita tentunya tak ingin hal ini terjadi, terutama pada bangsa kita, terutama generasi mudanya.

Sehingga semestinyalah kita akan tetap memposisikan internet sebagai fungsinya sebagai objek alat bantu, bukan sebagai subjek yang seolah-olah dapat bekerja sendiri untuk kita. Sebagai objek yang dapat membantu kita. Membantu dalam hal apa? Tentunya membantu atas hal apa internet itu kita manfaatkan. Ketika internet kita manfaatkan sebagai alat bantu untuk melakukan bisnis. Tentunya yang dibangun lebih dahulu adalah pondasi-pondasi konvensional sebuah bisnis, walaupun mungkin pondasi itu bisa mengambil ide dari informasi yang ada di internet, tetap hal itu harus digagas secara matang. Dan internet bisa kita manfaatkan sebagai semacam booster untuk mempercepat laju sampai kepada tujuan target-target bisnis kita. Bukan justru dibalik, kita coba apa saja yang ada di-internet demi sebuah bisnis.

Dan ide konvensional itu tetap pada pengertian antara dua pilihan ‘membuat apa yang bisa Anda jual’ atau ‘ menjual apa yang bisa Anda buat’. Atau mungkin Anda cukup beruntung memiliki keistimewaan ‘bisa menjual apa pun yang Anda buat’ atau ‘bisa membuat –atau mengadakan- apa pun yang Anda jual’. Sebuah ide konvensional yang akan melahirkan sebuah produk. Produk yang akan Anda buat –atau adakan- dan akan Anda jual. Produk yang tentunya akan memberikan nilai tambah bagi para pembelinya sepadan dengan uang pengorbanan yang mereka bayarkan, dan besar yang dibayarkan ini cukup untuk memutar kembali ‘roda’ pembuatan –atau pengadaan- produk, dan margin yang sepadan dengan resiko bisnis yang diambil. Inilah yang saya maksud sebagai pondasi konvensional sebuah bisnis. Dan internet bisa kita manfaatkan dari sisi e-marketing untuk membantu menjangkau dan memperluas pemasaran produk. Membantu mempertajam diferensiasi produk yang ditawarkan. Dan membantu membidik segmen pasar secara tepat dalam waktu yang lebih singkat. Juga internet bisa kita manfaatkan dari sisi e-sales-nya untuk membantu mendistribusikan produk kita secara lebih mudah, lebih cepat, transaksi yang lebih ringkas.

Bila hal ini yang menjadi pemahaman, mungkin kata-kata yang disimpulkan bisa sama seperti ungkapan teman saya yang melatih para guru itu, yaitu: “Bahwa internet dapat membantu mendapatkan penghasilan tambahan yang menjanjikan dalam waktu singkat…” Tapi, kata ini terasa lebih positif ketika persepsi dan fungsi internet itu bisa kita dudukkan pada porsi yang seharusnya.

Internet bisa membantu kita mendapatkan jalan pintas, tapi internet bukanlah jalan pintas..![pa] 4 Mei 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com – home improvement
bersama memberdayakan diri dan keluarga

h1

ANGGARAN SEBUAH BISNIS INTERNET by Pitoyo Amrih

Agustus 16, 2008

Seri Membangun Bisnis Dunia Maya

Cukup sering saya ditanya mengenai berapa anggaran yang harus saya sediakan untuk mengelola sebuah website. Kebanyakan dari mereka cukup terkejut mendengar jawaban saya. Terkejut bahwa biaya yang harus saya sediakan bagi website saya ternyata tidak semahal yang mereka sangka sebelumnya. Bahkan jauh lebih murah dari perkiraan mereka. Dan ketika saya coba jelaskan lebih detail, mereka mulai memahami bahwa terdapat beberapa komponen biaya yang harus dicermati. Dimana dari komponen inilah kita dapat mempersiapkan situs kita secara ekonomis.

Komponen biaya yang utama, adalah seperti kebanyakan sebuah usaha, terdapat dua macam kelompok besar, yaitu anggaran investasi dan anggaran operasional. Mari kita coba kupas satu per satu kedua kelompok besar ini.

Anggaran Investasi
Anggaran ini meliputi biaya awal sebuah website dibuat. Tema yang kita pilih (Anda bisa lihat artikel saya yang lalu) akan sangat menentukan besar biaya investasi ini. Dari tema ini biasanya pendesain website akan menterjemahkan dalam bentuk art-work, di mana dibuat dulu bangunan website secara umum dari sisi estetika dan arsitekturnya.

Pada bagian inilah –karena melibatkan kerja seni- rentang harga itu begitu lebar. Dari yang gratis sampai yang bisa berharga puluhan juta rupiah. Website saya sangatlah murah karena tidak ada biaya investasi untuk komponen art-work ini. Karena desain dari sisi estetika dan arsitektur ini kebetulan saya kerjakan sendiri. Ada dua hal di mana pekerjaan seni desain website ini bisa gratis. Yaitu karena kita memakai template gratisan yang banyak disediakan oleh website penyedia layanan ber-tema Function Engine, baik kita langsung mengaplikasikannya melalui fungsi-fungsi utiliti yang disediakan secara on-line oleh situs tersebut, atau kita unduh file-file template-nya untuk kita rangkai-rangkai sendiri secara off-line, baru ketika dirasa bagus bangunannya, kita tinggal upload ke server. Dan kemungkinan kedua, yang seperti saya lakukan, yaitu dengan cara menggarap desain seni website itu sendiri.

Kebanyakan pekerja art-work ini mematok harga sekitar satu sampai lima juta rupiah per desain, tergantung tema yang kita pilih, kopleksitas arsitekturnya, dan perusahaan jasa mana yang kita gandeng untuk pekerjaan ini. Saya sendiri juga pernah tahu, ada sebuah perusahaan besar yang mempercayakan desain art-work website-nya kepada perusahaan advertising agency –yang juga terkenal-, dan cukup membuat saya tercengang. Pekerjaan kontrak desain ini sampai puluhan juta rupiah! Dan kerja mereka pun cukup profesional dan detail pada setiap tahapnya. Sejak kontrak itu disetujui, secara maraton mereka mengumpulkan data dari pemilik website, akan bentuk seperti apa yang diinginkan. Dari sisi segmen pasarnya, kelompok usia, semangat yang ditawarkan, diferensiasi yang dibangun, eye-catcher yang ingin ditonjolkan, mengeksplorasi segenap teori text-book tentang periklanan. Kemudian mereka terjemahkan kedalam lembar demi lembar usulan desain dengan beberapa alternatif, template, isi setiap menunya, beserta presentasi akan maksud dari setiap detail pencitraan website tersebut.

Setelah kita memilih desain dan arsitekturnya, tahap berikutnya yang akan memakan anggara investasi yang kita tanamkan adalah biaya pembuatan file-file yang akan menyusun situs kita. Ini juga bisa terentang dari gratis sampai beberapa juta rupiah. Yang gratis tentunya ketika kita memanfaatkan script-script modul gratisan yang banyak ditawarkan di internet –seperti yang saya lakukan-. Sedang yang bayar, biasanya penawaran para web-desainer ketika mereka menyusun program situs, dihitung dari jam kerja yang mereka butuhkan untuk membuat program itu. Biaya yang kita keluarkan untuk komponen ini akan menghasilkan sekumpulan file-file yang sudah terintegrasi satu sama lain dalam folder masing-masing, untuk membangun tampilan website sesuai desain art-work-nya tadi. Ada yang hanya berupa kumpulan file-file berisi program html, php, atau asp, ada juga yang butuh dilengkapi dengan program database macam SQL atau Oracle.

Komponen biaya investasi lainnya adalah biaya registrasi domain, yaitu uang yang harus kita keluarkan untuk memiliki hak atas nama domain tertentu. Anggaran ini relatif standar, karena bandrol harga itu sudah ditentukan oleh para perusahaan pengatur nama domain di tiap negara, dan tertera jelas tarifnya. Para ISP yang bisa memfasilitasi pendaftaran domain biasanya bisa juga memberikan diskon untuk pendaftaran domain lewat mereka, karena bagi ISP, domain registrasi bisa dilakukan secara lump-sum kolektif atau secara borongan. Contoh yang tertera pada price-list, misal untuk “.com”, dibandrol 50 dolar AS saat inisiasi registrasi dan berlaku selama dua tahun pertama.

Ada yang menarik dalam registrasi domain ini, di mana berlakunya harga normal hanya ketika kepemilikan nama yang kita ingini masih tersedia (belum ada yang menggunakan hak atas nama itu). Namun bila nama itu sudah menjadi hak orang lain, sementara kita tidak bisa tidak harus memakai nama itu, maka ada biaya tambahan investasi terhadap nama domain ini, yaitu biaya pengalihan hak dari yang saat itu memiliki nama tersebut. Misalnya kita harus memakai nama “bisnis.com”, sementara nama itu sudah dimiliki orang lain, maka akan ada biaya beli domain itu yang besarnya bisa variatif tergantung tawar menawar yang berlangsung. Bisa hanya ratusan ribu, sampai ratusan juta rupiah.

Bahkan bila kebetulan nama domain itu merupakan website aktif yang terdapat content yang juga masih aktif on-line dengan jumlah pengunjung tertentu setiap harinya, maka tawar-menawar tidak hanya sebatas nama tapi juga bisa sampai pembelian isi situs tersebut.

Sedang satu lagi biaya investasi di awal, adalah harga inisiasi hosting, meliputi set-up fee dan biaya administrasi, beserta tahun pertama sewa hosting. Saat ini, dimana perusahaan ISP tumbuh semakin menjamur, membuat persaingan itu begitu ketat, di mana mereka berlomba-lomba memberikan layanan maksimal dengan harga murah. Rata-rata berkisar sekitar puluhan ribu.

Anggaran Operasional
Hak atas nama domain, tidak hanya mengharuskan kewajiban biaya di awal registrasi, tapi butuh biaya rutin setiap tahunnya. Karena pada dasarnya, hak atas domain ini hanya semacam sewa atas nama domain yang saat ini kita pakai, kita perlu melakukan perpanjangan setiap tahunnya. Bila tidak, maka saat jatuh tempo, pihak penyelenggara domain bisa langsung secara otomatis memberi label ‘available’ terhadap nama domain kita itu, dan setiap saat bisa menjadi milik orang lain. Biaya sewa domain ini bisa bervariasi tergantung available memory dan bandwith yang kita pilih, dari yang hanya seribuan per bulan, sampai yang ratusan ribu.

Biaya operasional lainnya adalah anggaran hosting berkala. Karena pada dasarnya, hosting adalah semacam sewa kepemilikan tempat di mana file-file kita disimpan secara on-line.

Setiap harinya kita perlu melakukan perawatan terhadap situs kita. Baik dari selalu memeriksa integritas links di situ kita, adakah broken link. Ini bisa terjadi, misal bila kita melakukan updating tampilan, atau bila ISP meng-upgrade software server-nya, atau bisa juga terjadi bila para pengakses internet bisa punya otorisasi sampai batas tertentu terhadap situs kita, bisa jadi akan mengubah link-link tertentu. Proses updating secara berkala, melakukan perubahan-perubahan tampilan, dan sebagainya. Sehingga kita perlu jalur akses untuk selalu dapat menjangkau file kita di server.

Pilihan akses on-line sekarang begitu beragam. Dari yang gratisan, dengan memanfaatkan free hot-spot yang sekarang semakin banyak, dengan tentunya konsekuensi masalah sekuritinya, sampai koneksi dedicated-line yang dirasa masih sangat mahal. Anda boleh tidak percaya, tapi saya punya teman yang sampai sekarang mengelola on-line store yang terus berkembang, tapi sampai detik ini dalam melakukan akses ke server, dengan cara setiap hari pergi ke warnet. Kalau dirasa masih ekonomis, kenapa tidak?

Sekarang, juga mulai banyak, jasa baik dalam bentuk organisasi usaha ikut dalam wadah ISP, maupun perorangan, yang membantu melakukan perawatan terhadap website. Dari yang kontrak bulanan atau yang model bayar setiap pengecekan atau updating.

So, Masih menganggap bisnis di internet terlalu mahal dibanding bisnis brick and mortar..?[pa]

1 Agustus 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com – home improvemen

h1

Iklan Banner

Agustus 16, 2008
h1

Link Exchange

Agustus 15, 2008

Tukar Link – Barter Link – Back Link – Link Exchange – Link Partner

Tingkatkan link popularity web bisnis Anda dengan Tukar Link / BackLink / LinkExchange. Kami mengundang siapapun Anda sebagai pengelola dan pemilik bisnis online untuk bergabung bersama kami. Anda bisa memasukan link bisnis Anda pada halaman website ini.

Silahkan hubungi email support@bukusmart.com untuk bertukar link.

Untuk bertukar link. Pasang dulu link bukusmart.com di website anda dengan data sbb:
Judul: Mata-Mata Bisnis
Description: Menjadikan Bisnis Internet Anda lebih baik!…
URL: http://matamatabisnis.wordpress.com

Barter Link | BackLink | Tukar Link | Link Exchange | Link Partner

Buku Smart Dot KomToko Ebook/Software/Video Termurah dan Terlengkap di Indonesia!….

Bisnis Internet Paling Direkomendasikan - Saya baru 5 bulan bergabung dengan Formulabisnis.com, tapi hasilnya sudah luar biasa! … Dengan panduan SMUO di formulabisnis.com yang bapak kelola, …


Bisnis gayapos 2008 - Rahasia Bagaimana Saya Menghasilkan Rp.8.865.450,- /bulan Hanya Dengan Bekerja 2 jam Sehari Tanpa keluar Rumah!


Dengan Modal Rp 0 & Tanpa Risiko!! - Bisnis Pulsa Elektrik GRATIS, Hasil FANTASTIS, Bonus ROMANTIS!


Domain Services – Asia Terbuka Untuk Umum (NamaDomain.com, 24 Mar 2008) … 31 May 2007, CASH BACK 37% FOR ALL ITEMS ONLY AT NAMADOMAIN.COM New. 13 Apr 2007, PROMO DOMAIN .CN …

Download eBook Gratis – Buku ebook GRATIS tentang internet bisnis, internet marketing, bisnis online, komputer, cinta/seks education, karir/pekerjaan & finansial!


Pasang Iklan Anda disini – Pasang Iklan Murah untung berlimpah!


Planet Bisnis Internet Indonesia – Bisnis internet yang sangat di sarankan bagi pemula dan tingkat menengah untuk meraih penghasilan besar dan konstan dari internet.


Web Hosting dan Domain Murah Indonesia – Hosting Murah Indonesia dengan Paket Hosting Paling Murah dan Limit Bandwith Lebih Tinggi. Kami penyedia layanan web hosting murah Indonesia dan pendaftaran …


Web Hosting Indonesia – Provides Indonesia Web Hosting murah services, Indonesia domain name registration, web programming and internet service provider.


Web Hosting Company - Paket Express Baru hot! Untuk melengkapi berbagai paket hosting kami menyediakan paket baru yaitu paket Express, dimana dengan paket Express …